Page 23 - e-Modul Ekonomi Internasional
P. 23

e-Modul Ekonomi Internasional



                 komparatif,  meskipun  sebuah  negara  kurang  efisien  dibanding  (atau  memiliki  kerugian

                 absolut  terhadap)  negara  lain  dalam  memproduksi  kedua  jenis  komoditi yang  dihasilkan,
                 namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua

                 belah pihak (Salvatore, 1997: 27). Negara A misalnya harus melakukan spesialisasi dalam
                 memproduksi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (yang

                 merupakan komoditi yang memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditi yang

                 memiliki kerugian absolut cukup besar (komoditi yang memiliki kerugian komparatif). Jadi
                 harga  sesuatu  barang  tergantung  dari  banyaknya  tenaga  kerja  yang  dicurahkan  untuk

                 memproduksi barang tersebut. Teori keunggulan absolut tidak dapat digunakan sebagai dasar
                 dalam perdagangan internasional apabila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas

                 kedua  jenis  komoditi.  Atau  dengan  kata  lain  bahwa  bila  salah  satu  negara  memiliki

                 keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi, maka perdagangan tidak akan terjadi. Namun
                 dengan  teori  keunggulan  komparatif,  perdagangan  internasional  antara  dua  negara  masih

                 dapat berlangsung walaupun salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis
                 komoditi. Hal tersebut dapat dijelaskan pada contoh di bawah ini.


                      Tabel 2. Keunggulan komparatif berdasarkan jam kerja per satuan output: David Ricardo

                    Negara           Batik           Sutra               Dasar Tukar Dalam Negeri

                  Indonesia     15               10            1 Batik = 0,7 Sutra    1 Sutra = 1,5 Batik

                  China         20               22            1 Batik = 1,1 Sutra    1 Sutra = 0,9 Batik
                      Menurut David Ricardo bahwa keuntungan perdagangan dapat diperoleh kedua negara

                 yang melakukan hubungan perdagangan apabila dasar tukar internasional (DTI) 1 : 1. Dengan
                 DTI 1 : 1, maka Indonesia ekspor  batik dengan keuntungan 1,1 – 0,7 = 0,4 meter sutra.

                 Sedangkan China ekspor sutra dengan keuntungan 1,5 – 0,9 = 0,6meter batik.





                     Terkait tambahan materi ini, dapat Anda
                     simak melalui video dan audio pada link
                                   berikut ini.
                         https://go.undiksha.ac.id/qGfZA

                                       dan

                          https://go.undiksha.ac.id/I8eyf








                                                           14
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28